Copyright © rien.nosaur
Friday, August 22, 2014

Ajik.

Rabu, 25 Juni 2014 tepat jam 5 pagi, bapak mertuaku meninggal.
Seorang ayah, suami, dan kakek dari 2 orang cucu laki – laki yang sedang aktif dan menyayangi kakeknya. Bapak mertua yang selalu kupanggil Ajik ini meninggal karena sakit komplikasi Jantung, hati, dan paru – paru yang sudah dideritanya sejak lama.
Kabar duka ini tentu saja mengguncang keluarga kecil kami.
Walaupun seluruh keluarga sudah pasrah selama Ajik sakit, tapi tetap saja menyadari Ajik sudah tiada seperti mendapat berita yang mendadak.
Dan hal yang benar – benar membuatku menangis adalah melihat suamiku.
Ayahnya meninggal sehari setelah ulang tahunnya ke-30 tahun.

Kehilangan mertua itu rasanya sama mungkin seperti kehilangan orang tua kandung.
Kehilangan Ajik sangat menyesakkan hatiku. Berkali – kali jika ingat Ajik, rasanya ada sesuatu yang tertahan di dada, sakit sekali di daerah leher sampai tanpa sadar berurai air mata dan akhirnya menangis bertubi – tubi.
Ketika Ajik sakit dan harus masuk rumah sakit untuk ketiga kalinya, ada perasaan yang berbeda yang kurasakan. Pertama, jujur saja aku sudah pasrah. Namun melihat kondisi rumah tangga keluarga kami yang begitu crowded, aku berpikir harus kuat dan tegar. Ajik sudah sakit sejak lama, sangat tidak tega melihat Ajik yang sudah mulai bicara ngawur dan tentunya ia tidak pernah tidur tenang. Apalagi ketika di ruang ICU, tubuhnya terus dipasangi alat sehingga ia tidak bisa berkomunikasi dengan keluarganya dengan normal.
Kedua, dengan diopnamenya Ajik di rumah sakit, otomatis pola hidup kami akan berubah. Anak – anak akan kembali dititip kesana kemari atau pekerjaan serta kuliahku akan mulai harus berubah sistemnya. Dan itu tidak mudah untuk mengatur waktu serta hal – hal lainnya. Syukur aku punya ibu mertua dan adik – adik ipar yang secara otomatis punya rencana untuk membantuku mengurus Wah Giri dan Wah Senna.

Pada saat Ajik sakit, aku sama sekali tidak pernah menangis.
Tidak tahu kenapa. Tapi aku sama sekali tidak menangis dan tetap melakukan kegiatan. Karena aku bekerja dan kuliah, setiap pulang kerja atau kuliah aku langsung ganti shift dengan ibu mertua untuk menjaga anak – anakku.
Kemudian aku dapat kesempatan untuk menjenguk Ajik di ICU.
Melihatnya di ruang ICU aku pun mulai menangis
Namun….
Aku hanya mendapat kesempatan itu satu kali.
Hanya satu kali.
Dan itu pun aku tidak boleh masuk ke dalam ICU.

Dan setelah itu aku tidak bisa bertemu dengannya lagi.
Tahun lalu dan dua tahun lalu, ketika Ajik masuk ruang ICU, aku masih bisa bertemu dengannya. Bercakap – cakap dan berbincang tentang pekerjaan dan anak – anak. Apalagi 2 tahun lalu ketika aku hamil, Ajik berpesan agar aku makan yang banyak dan jangan terlalu stress mikirin Ajik. Pikirin aja Wah Giri dan bayi di kandungan. Ajik bilang Ajik pasti sembuh.

Selama Ajik masih hidup, Ajik adalah salah satu orang yang sangat mendukung apa yang ingin aku lakukan. Sejak mengenalnya dari tahun 2007, Ajik selalu murah senyum dan selalu sabar. Dia tidak pernah marah jika aku pulang terlambat dan selalu memberikan cerita – cerita yang tidak pernah aku dengar sebelumnya. Ajik juga yang membantuku memberikan ide – ide untuk kuliah S2, bahkan membantu memasang frame padahal saat itu Ajik lagi sakit. Dia juga berjanji akan datang pas aku pameran. Tapi tidak terealisasi karena Ajik meninggal beberapa hari sebelum aku pameran.

Selamat jalan Ajik.
Kami akan menjaga ibu, adik – adik dan cucu.
Maafkan kesalahan Ririen selama ini sebagai menantu dan anak Ajik.
Sampai berjumpa lagi Ajik.



We love you.

2 komentar:

  1. turut berduka cita miss, semoga beliau tenang bersamaNya, jasadnya berpisah dari yg ditinggalkan, tp di atas sana selalu menjaga keluarganya :-)

    ReplyDelete
  2. Terima kasih banyak miss Eni :)

    ReplyDelete

Diisi komen ya :)

me and my fams!

Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers